Susu Kedelai Mencegah Penimbunan Lemak

Susu kedelai sudah ada selama ribuan tahun, tepatnya 1900 tahun lalu di Tiongkok. Sejak itu susu kedelai menjadi minuman umum di dalam kebudayaan tionghoa karena cocok diminum sepanjang tahun. Susu kedelai memiliki komposisi yang mirip dengan susu: 3,5% protein, 2% lemak, serta 2,9% karbohidrat.

Selain sebagai sumber protein, susu kedelai juga merupakan sumber lemak, vitamin, mineral, dan serat yang paling baik. Susunan asam amino pada susu kedelai lebih lengkap dan seimbang. Susu yg akhir-akhir ini lebih dikenal sebagai susu diet ini sangat berkhasiat bagi pertumbuhan dan menjaga kondisi sel-sel tubuh. Susu kedelai mengandung protein tinggi dan mengandung sedikit lemak. Protein yang terbukti paling baik dibandingkan jenis kacang-kacangan yang lain dan setara dengan protein hewani dari daging, susu, dan telur. Yang akan membuat Anda merasa kenyang dan terhindar dari keinginan makan berlebihan. Baca lebih lanjut

Perjalanan Blog Mulai Imunisasi sampai Susu Kedelai

Dari Imunisasi sampai Susu Kedelai. Ga terasa blog ini dah berusia 2 tahun tepatnya bulan Januari 2007. Tulisan pertama waktu itu adalah tentang perkembangan anak kami. Namun berjalan banyak tulisan mengenai imunisasi dan susu kedelai.

Mulai tertarik untuk sharing pengetahuan tentang imunisasi,karena pada tahun tersebut kami baru saja dikaruniai anak kedua, Vani Aludra Rayani. Biasalah tahun2 pertama kan sering banget ke dokter terutama untuk imunisasi. Akhirnya kamipun sering browsing mencari artikel2 tentang imunisasi.

Sedangkan tulisan mengenai susu kedelai, dikarenakan kedua anak kami, Vina dan Vani sama-sama alergi terhadap susu sapi. Pengalaman anak pertama kami Vina, menjadi pelajaran buat kami. Sehingga pada saat anak kedua kami, Vani divonis alergi susu sapi, kami langsung memberikan susu yang terbuat dari bahan kedelai.

Kemudian saya iseng-iseng cek traffic blog ini. Ternyata lumayan banyak juga pengunjungnya. Blog ini dikunjungi lebih dari 300 visitor per hari. Wooowww……makasih ya buat yang udah berkunjung ke blog ini.

blog imunisasi dan susu kedelai

blog imunisasi dan susu kedelai

Jumlah pengunjung secara keseluruhan selama 2 tahun ini 276.278, hmmmm banyak ya. Dan blog ini berisi 127 artikel (hehehe sedikit sekali ya). Mudah-mudahan blog ini bisa diupdate terus, untuk menjlin tali silaturrahmi.

Hindari Osteoporosis

PENYAKIT osteoporosis terus mengancam. Sedikitnya 10 juta orang terancam pengeroposan tulang (osteoporosis). Ngerinya lagi, dari jumlah tersebut, 80 persen adalah perempuan. Tak heran bila banyak perempuan memasukkan kesehatan tulang dalam 10 besar hal yang mesti mendapat perhatian. National Osteoporosis Foundation mengatakan bahwa untuk merawat tulang ada lima langkah mudah.

Pertama adalah konsumsi makanan berkalsium dan vitamin D dalam jumlah yang memadai. Bila asupan dari makanan kurang mencukupi, ada baiknya Anda mengonsumsi suplemen yang berisi cukup kalsium dan vitamin D.

Langkah kedua adalah menjaga berat badan agar tetap ideal. Berolahragalah yang teratur untuk mempertahankan berat badan. Ketiga, stop merokok dan mengonsumsi alkohol. Yang terakhir sesekali lakukan tes kepadatan tulang untuk mengecek apakah kondisi tulang Anda masih bagus.
Baca juga :
https://vinadanvani.wordpress.com/2008/08/27/1001-manfaat-susu-kedelai/
https://vinadanvani.wordpress.com/2008/07/13/gizi-dan-manfaat-susu-kedelai/
https://vinadanvani.wordpress.com/2008/06/07/keunggulan-dan-manfaat-kandungan-susu-bubuk-kedelai-melilea/
https://vinadanvani.wordpress.com/2008/05/03/manfaat-lain-susu-kedelai-atasi-keluhan-menopause/

Perempuan Indonesia Rentan Osteoporosis

Kaum perempuan di Indonesia hanya mengonsumsi 270 miligram kalsium per hari. Ini berarti asupan mereka kurang dari 50 persen rekomendasi kalsium harian yang dibutuhkan untuk menjaga kekuatan dan kesehatan tulang. Hal ini mengakibatkan tingginya risiko terkena osteoporosis pada perempuan di Tanah Air.

“Untuk itu, kami terus berkomitmen untuk melawan osteoporosis dengan menginvestasikan lebih dari 40 juta dollar AS untuk riset kesehatan tulang secara ekstensif demi menghasilkan produk yang memberi manfaat optimal bagi kesehatan tulang,” kata Presiden Direktur Fonterra Brands Indonesia Maspiyono Handoyo, dalam siaran pers, Jumat (16/1), di Jakarta.

Untuk membantu mengurangi risiko osteoporosis, lanjut Maspiyono, kita dapat mengonsumsi makanan yang cukup, kebiasaan yang sehat dan olahraga yang tepat. Pencegahan dapat mengurangi risiko kehilangan sel tulang. Makin cepat melak ukan langkah pencegahan, maka semakin baik hasilnya. “Salah satu cara mencegah osteoporosis adalah konsumsi kalsium cukup. Massa tulang amat dipengaruhi oleh kalsium karena 98 persen dari kalsium tersimpan dalam tulang,” ujarnya.

Dosis kalsium yang diperlukan tubuh menurut kelompok umur adalah, anak-anak umur 4-8 tahun 800 mg kalsium per hari, remaja usia 11-18 tahun 1.300 mg kalsium per hari. Adapun perempuan dewasa, perempuan hamil dan menyusui usia 19-50 tahun butuh 1.000 mg kalsium per hari, perempuan dewasa usia di atas 50 tahun butuh 1.200 mg per hari. Sementara pria dewasa di bawah usia 50 tahun butuh 1.000 mg per hari sedangkan usia di atas 50 tahun memerlukan 1. 200 mg per hari.

Hasil penelitian yang dipublikasikan di European Journal of Clinical Nutrition tahun 2007 yang dilakukan Universitas Otago, New Zealand, bekerja sama dengan SEAMEO TROPMED RCCN, Universitas Indonesia dan Universitas Putra Malaysia, menunjukkan perempuan Indonesia hanya mengonsumsi 270 miligram kalsium perhari atau kurang dari 50 persen rekomendasi kalsium harian yang dibutuhkan.

Asupan yang kurang dari 50 persen rekomendasi harian tersebut juga terjadi di 9 negara di Asia. Padahal kebutuhan kalsium yang dianjurkan per harinya adalah 1.000-1.200 miligram. Kondisi ini menyebabkan banyak perempuan berisiko tinggi terserang pengeroposan tulang atau osteoporosis. Data kepadatan tulang yang dianalisis Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi Bogor tahun 2005 menunjukkan, 2 dari lima orang Indonesia berisiko menderita osteoporosis.

Osteoporosis adalah turunnya kepadatan tulang disertai dengan meningkatnya risiko patah tulang. Osteoporosis dapat mengenai semua tulang, tetapi yang tersering adalah tulang pergelangan tangan, tulang belakang dan tulang panggul. Masalahnya, p engeroposan tulang merupakan salah satu penyakit yang timbul tanpa disertai gejala sehingga perlu diwaspadai sejak dini.

Kaum perempuan memiliki risiko lebih tinggi terkena osteoporosis karena berkurangnya hormon estrogen terutama pada masa menopause. Oleh karena itu, penting bagi seorang perempuan untuk mencapai kepadatan tulang maksimalnya di puncak massa tulang pada usia 25-30 tahun, dengan mengonsumsi cukup kalsium, dan berolahraga dengan beban secara teratur sejak dini.

Data International Osteoporosis Foundation (IOF) memperlihatkan, 50 persen dari kejadian patah tulang panggul di dunia akan terjadi di Asia pada tahun 2050. Osteoporosis tidak hanya terjadi pada wanita, tapi juga mengintai pria. IOF menyatakan, 20-25 persen dari kasus patah tulang panggul akibat osteoporosis terjadi pada pria. Risiko terjadinya patah tulang karena osteoporosis pada kehidupans eorang pria berusia 50 tahun ke atas adalah 30 persen, persentase yang hampir sama besarnya dengan risiko terjadinya kanker prostat.

Baca juga :

Susu Kedelai Baik Untuk Penderita Autisme

Jika buah hati Anda menderita autisme ataupun alergi susu sapi, susu kedelai bisa menjadi pilihan. Di antara jenis kacang-kacangan, kedelai merupakan sumber protein, mineral, lemak, dan serat yang paling baik. Karena itu, susu kedelai bisa menggantikan susu sapi.

Susu kedelai memiliki banyak kandungan gizi yang tak kalah dengan susu sapi/hewani. Bahkan, berdasarkan berbagai penelitian ilmiah, terbukti bahwa susu kedelai mampu mengatasi penyakit kanker (usus, payudara, dan prostate), menurunkan kadar kolesterol, menghambat menopause, mencegah osteoporosis, dan mampu meningkatkan imunitas tubuh. Baca lebih lanjut

MENGAPA ANAK SUSAH MAKAN

Batita yang mogok/susah makan kerap membuat orang tua kehabisan akal. Segala cara sudah dicoba, tetapi yang ditemui justru jalan buntu. Sebenarnya apa sih dalang dari masalah makan pada anak??

Menjelaskan fenomena anak susah makan bisa dibilang gampang-gampang susah. “Ah mungkin sedang masanya” atau ”lagi bosan dengan menunya kali…”

Menginjak usia batita semangat bereksplorasi si kecil meningkat, seringkali makan menjadi aktivitas kurang menyenangkan dibanding bermain. Coba terapkan pola rutin, ada waktu bermain, ada waktu makan, ada pula waktu tidur.

Sayangnya tak semua masalah kesulitan makan sesederhana itu, jika jurus praktis untuk menghadapi aksi mogok makan si kecil menemui jalan buntu, kemungkinan besar ada penyebab medis dari kondisi ini. Biang keladi yang sering ditemui adalah hilangnya napsu makan akibat gangguan pencernaan. Amatilah keseharian si kecil, apakah sering mengalami :

  • Perut kembung
  • Cegukan
  • Sering buang angin
  • Muntah atau mual bila disuapin makanan
  • Nyeri perut sesaat yang hilang timbul

Ini kerap disertai gangguan perilaku seperti aktif berlebihan, gangguan tidur malam dan gangguan konsentrasi. Tak jarang terdapat gangguan kesehatan gigi, sariawan dan gusi berdarah. Baca lebih lanjut

Belajar Dari Produk Susu yang Tercemar Melamin

Sering sekali kita mendapat berita mengenai “tidak aman” nya suatu produk makanan dan minuman untuk dikonsumsi. Terakhir ini adalah berita mengenai produk susu yang tercemar melamin. Tentu kita sebagai orang tua harus dapat mengambil sikap yang tepat terhadap fenomena ini.

Kita kembali pada beberapa saat sebelum adanya berita ini, anda tentu masih ingat kasus bakteri Sakazaki yang ditengarai mencemari susu formula bayi pada sekitar pertengahan Mei 2008 lalu. Hampir semua pemberitaan memuat hal tersebut, headline surat kabar, internet, dan televisi semua ramai mengangkat permasalahan tersebut. Sikap panik melanda, tetapi setelah itu… (Anda sendiri yang bisa menjawab). Sebelumnya juga ada isu soal minuman isotonik yang dikabarkan bisa menyebabkan penyakit Lupus, padahal tidak. Belum lagi soal Borax dan formalin pada baso, tahu, ikan asin, bahkan daging ayam potong.

Sebagian orang tua tentu merasa gelisah dengan kondisi ini, namun sebagian orang tua yang selalu cermat memilih produk makanan dan selalu menjaga agar anak-anak tidak berlebihan dalam mengonkumsi suatu makanan, tak perlu terseret dalam “pemberitaan” yang mengerikan tersebut. Baca lebih lanjut