Perjalanan Blog Mulai Imunisasi sampai Susu Kedelai

Dari Imunisasi sampai Susu Kedelai. Ga terasa blog ini dah berusia 2 tahun tepatnya bulan Januari 2007. Tulisan pertama waktu itu adalah tentang perkembangan anak kami. Namun berjalan banyak tulisan mengenai imunisasi dan susu kedelai.

Mulai tertarik untuk sharing pengetahuan tentang imunisasi,karena pada tahun tersebut kami baru saja dikaruniai anak kedua, Vani Aludra Rayani. Biasalah tahun2 pertama kan sering banget ke dokter terutama untuk imunisasi. Akhirnya kamipun sering browsing mencari artikel2 tentang imunisasi.

Sedangkan tulisan mengenai susu kedelai, dikarenakan kedua anak kami, Vina dan Vani sama-sama alergi terhadap susu sapi. Pengalaman anak pertama kami Vina, menjadi pelajaran buat kami. Sehingga pada saat anak kedua kami, Vani divonis alergi susu sapi, kami langsung memberikan susu yang terbuat dari bahan kedelai.

Kemudian saya iseng-iseng cek traffic blog ini. Ternyata lumayan banyak juga pengunjungnya. Blog ini dikunjungi lebih dari 300 visitor per hari. Wooowww……makasih ya buat yang udah berkunjung ke blog ini.

blog imunisasi dan susu kedelai

blog imunisasi dan susu kedelai

Jumlah pengunjung secara keseluruhan selama 2 tahun ini 276.278, hmmmm banyak ya. Dan blog ini berisi 127 artikel (hehehe sedikit sekali ya). Mudah-mudahan blog ini bisa diupdate terus, untuk menjlin tali silaturrahmi.

Iklan

ASI memang tiada lawannya

Masih meragukan ASI!!!!! Jangan !asi
Ini Beberapa Alasan mengapa Asi merupakan nutrisi terbaik bagi buah hati anda:
1. Meningkatkan ikatan ibu dan anak. Secara Psikologis saat seorang ibu menyusui banyinya sambil membela, melakukan kontak mata, dan berkomunikasi pada si kecil ini akan meningkatkan bonding 9ikatan tali kasih ibu-anak)
2. Untuk Ibu, menyusui juga merupakan cara yang efektif untuk mempercepat kembali ke berat badan normal, mengurangi resiko perdarahan setelah melahirkan dan mengurangi kesuburan secara alami.
3. ASI memiliki peran penting untuk pembentukan mikroflora usus pada bayi.
4. ASI mengandung probiotik yang merupakan bakteri menguntungkan untuk kesehatan saluran cerna. jenis bakteri yang ditemukanpada ASI antara lain bakteri laktat dan bifidobakteria.
5. Variasi bakteri dan keseimbangan mikroflora pada saluran cerna berperan penting dalam pembentukan sistem daya tahan tubuh.

Imunisasi Tetanus & HPV, Wajib Bagi Calon Ibu

VAKSINASI TT (Tetanus Toxoid) sudah jamak diberikan kepada calon pengantin wanita. Selain TT, sebaiknya diberikan juga vaksinasi HPV (Human Papiloma Virus) kepada calon Moms untuk mencegah terjadinya kanker serviks (mulut rahim) yang bisa memengaruhi tumbuh kembang janin, juga mengancam jiwanya.

Menurut dr Sintha Utami, SpOG, Spesialis Kebidanan dan Kandungan RS Bunda Margonda Depok, tetanus disebabkan oleh toksin yang diproduksi oleh bakteri yang disebut clostridium tetani.

Tetanus juga bisa menyerang pada bayi (tetanus neonatrum) yang ditularkan melalui ibunya yang memang terinfeksi tetanus atau pada saat persalinan. Tetanus merupakan penyebab utama kematian bayi di Indonesia.

Sayangnya, masih banyak calon ibu di masyarakat kita –terutama yang tinggal di daerah-daerah terpencil– berada dalam kondisi yang bisa dibilang masih “jauh” dari kondisi steril saat persalinan. Hal ini lah yang bisa menimbulkan risiko Moms maupun bayinya terkena tetanus.

Lebih lanjut dr Sintha memaparkan, bila ibu hamil terpapar oleh bakteri atau spora tersebut, maka si ibu berisiko terinfeksi. Infeksi juga bisa diperoleh dari pusar bayi baru lahir. Pasalnya, bakteri ini tumbuh melalui luka dan biasanya terjadi saat proses pemotongan tali pusat yang menggunakan alat-alat seperti gunting atau pisau yang tidak steril.

Para ibu yang sudah menerima vaksin selama masa kehamilan, sudah memberikan perlindungan untuk bayinya yang tentu saja akan mengurangi risiko terkena tetanus. Perlindungan tersebut cukup untuk masa dua bulan setelah kelahiran di mana bayi akan mendapat imunisasi kombinasi –sebagai bagian dari program rutin imunisasi pemerintah– untuk mencegah difteri, batuk, dan tetanus setelahnya.

Peran Vaksinasi HPV

Virus HPV (Human Papilloma Virus), terang dr Sintha, merupakan penyebab Penyakit Menular Seksual (PMS) yang dihubungkan dengan kondiloma akuminata (kutil kelamin). Virus ini juga berkaitan erat dengan kanker serviks, karena pada 95 persen penderitanya mengandung DNA virus ini.

Kanker serviks (cervical cancer) adalah kanker yang terjadi pada area leher rahim atau serviks. Kanker serviks cenderung muncul pada perempuan berusia 35-55 tahun, dapat pula muncul pada perempuan yang usianya lebih muda. Virus ini dapat ditularkan melalui hubungan seksual, apalagi yang sering bergonta-ganti pasangan. Pada ibu yang tertular virus HPV, dapat pula ditularkan kepada bayinya saat persalinan.

Hingga saat ini belum ada pengobatan langsung untuk infeksi HPV, sambung dr Sintha, namun sistem kekebalan tubuh dapat mencegah terjadinya infeksi HPV. Oleh karena itu, vaksinasi HPV sangat dianjurkan mulai pada anak berusia 9-12 tahun, karena pada usia itu sistem kekebalan tubuhnya sangat baik.

Dilarang Bagi Ibu Hamil

Meski penting, namun sayang, ibu hamil tidak boleh melakukan vaksinasi HPV. Menurut dr Sintha, vaksin HPV diberikan pada seorang wanita sebelum ia hamil. Pemberian vaksin ini dilakukan sebanyak tiga kali, dengan jarak pemberian (interval) 0, 1, dan 6 bulan.

Namun jika seorang wanita telah mendapat vaksinasi pertama sebelum hamil, kemudian diketahui hamil, maka pemberian vaksin selanjutnya diberikan setelah bayi lahir. Begitu saran dr Sintha.

Belum didapat data hasil penelitian yang memadai untuk keamanan pemberian vaksinasi HPV pada ibu hamil, namun diketahui aman diberikan pada ibu menyusui. Untuk amannya, bila Anda ingin diberi vaksinasi HPV, maka konsultasikan terlebih dulu kepada dokter yang bersangkutan kapan waktu yang tepat.(Mom& Kiddie//nsa)

VAKSIN KOMBINASI

Kelahiran buah hati merupakan saat-saat terindah. Setelah kelahiransi buah hati anda akan disibukan antara lain dengan mengantarnya mendapatkan vaksin dasar. Dibulan pertama si kecil sudah harus mendapatkan vaksin BCG dan Hepatitis B. Pada bulan kedua harus mendapat vaksin polio, DPT dan HiB. selanjutnya buah hati kita yang masih merah itu harus mendaptkan vaksin ulangan seperti DPT, Hepatitis B dan HiB,demikian seterusnya sampai sekitar 2 tahun. Bisa dibayangkan betapa sibuknya anda mengatur waktu antara pekerjaan dan jadwal mengantar imunisasi si buah hati.  Namun kini telah ada jalan keluar untuk kesibukan tersebut dan buah hati anda tidak harus berkali-kali disuntik.

Vaksin Kombinasi

Sejalan dengan perkembangan riset dan teknologi kedolteran, saat ini telah tersedia beberapa macam vaksin kombinasi terbaru untuk bayi. Vaksin kombinasi adalah vaksin yang dapat melindungi bayi dari beberapa penyakit infeksi sekaligus dalam satu kalo dosis suntikan. Kini tersedia vaksin kombinasi yang dapat mencengah 5 penyakit infeksi sekaligus dalam 1kali pemberian atau disebut vaksin 5 in 1. Vaksin ini melindungi bayi dari Difteri, Tetanus, Pertusis, Meningitis yang disebabkan oleh bakteri HiB, dan Polio dalam satu suntukan sekaligus. Vaksin ini dapat mulai diberikan sejak usia 2 bulan, pemberian berikutnya usia 4 bulan dan terakhir usia 6 bulan. Untuk mempertahankan imunitas yang sudah terbentuk hanya dibutuhakan 1 dosis penguat (booster) saat bayi usia 18 bulan. Vaksin 5 in 1 ini menjawab kebutuhan anda untuk mengurangi jumlah suntikan untuk si kecil, dengan jumlah suntikan yang lebih sedikit maka trauma ketakutan yang mungkin dialami bayi akan berkurang dengan sendirinya.

Imunisasi adalah halal, termasuk Imunisasi Polio

Banyak sekali perdebatan mengenai hukum dari imunisasi terutama mengenai imunisasi polio. Telah kita ketahui bersama bahwa dalam imunisasi polio menggunakan vaksin yang dalam proses pembuatannya menggunakan enzim yang mengandung porcine (babi). Memang semua hal yang mengandung sesuatu yang najis itu adalah haram.  Lantas mengapa Imunisasi Polio tersebut halal ?

Sebelumnya yang menjadi bahan rujukan saya tentu saja dari sumber resmi yang berwenang dalam hal pemberian imunisasi yaitu Departemen kesehatan dan Majelis Ulama Indonesia. Ada dua hal penting yang digunakan sebagai landasan atau dasar pemberian imunisasi polio:

  1. Vaksinasi polio ini sangat penting agar anak-anak kita tidak tertular virus polio. Virus ini cukup berbahaya. Jika anak terkena sulit untuk diobati. Anak bangsa, khususnya Balita, perlu diupayakan agar terhindar dari penyakit Polio, antara lain melalui pemberian vaksin imunisasi.
  2. Vaksin khusus tersebut (IPV) dalam proses pembuatannya menggunakan enzim yang berasal dari porcine (babi), namun dalam hasil akhir tidak terdeteksi unsur babi, dan belum ditemukan IPV jenis lain yang dapat menggantikan vaksin tersebut.

Sehingga Departemen Kesehatan perlu mendapatkan fatwa dari MUI untuk menentukan apakah imunisasi polio tersebut halal atau haram. Dan sudah sangat jelas MUI telah mengeluarkan fatwa bahwa imunisasi polio tersebut adalah halal. Itu adalah fatwa menurut MUI, sehingga apabila beberapa orang ada yang berpandangan lain tentu sah-sah saja, namun sebaiknya tidak memprovokasi. Kebebasan memilih tentu merupakan hak setiap orang tua apakah anaknya akan diimunisasi atau tidak.

Jika anda merasa yakin anak anda sehat tentu imunisasi polio hanya sebuah pilihan dan bukan merupakan kewajiban. Tapi jika anda “awam” tentang pengetahuan mengenai kesehatan buah hati anda, maka imunisasi adalah suatu kewajiban. Bukankah dianjurkan untuk menyerahkan sesuatu hal pada “ahlinya”. Muhammad SAW berkata, “Jangan serahkan suatu pekerjaan pada yang bukan ahlinya. Bila dikerjakan oleh yang bukan ahlinya, maka tunggu kehancurannya“. Pada kasus ini tidak salah bila kita bersandar pada Depkes dan MUI.

Tulisan ini juga sekaligus menjawab pertanyaan saudara Muhamad Jabir di Imunisasi Hepatitis B

Baca juga:

Imunisasi yang diwajibkan:

  1. Imunisasi BCG Untuk Mencegah TB (Tuberkulosis)
  2. Imunisasi Hepatitis B
  3. Imunisasi Polio
  4. Imunisasi DTP
  5. Imunisasi Campak

Artikel lain:

APA ITU PNEUMOKOKUS???

Apa sih Pneumokokus? Masih banyak diantara kita yang belum tahu mengapa nama itu sangat berbahaya bagi si kecil kita.

Pnemukokus (streptococus pneumoniae) adalah bakteri yang berbentuk bulat dan terangkai menjadi rantai dan bersifat merusak, yang apabila masuk kedalam sirkulasi darah akibatnya bisa fatal.

Kumpulan penyakitnya disebut IPD (invansive Pneumonia Disease)

Rentetan jenis penyakit pneumokokus seperti radang paru (pneumonia), radang selaput otak ( meningitis) dan infeksi darah (bakteremia).

Diketahui terdapat 90 tipe bakteri pneumokokus, yang masing-masing dibedakan dari lapisan kulit terluarnya.

Kenali Gejala IPD Baca lebih lanjut

Imunisasi, Berikan Sesuai Jadwal

Jadwal pemberian imunisasi ditenukan dengan melihat usia berapa seorang anak mimiliki respons imunologi (respons untuk membentuk anti bodi) yang paling tepat. Selain juga dengan memerhatikan usia berapa umumnya anak terpapar pada penyakit tersebut. Itulsh mengapa, anak harus mendapat imunisasi sesuai jadwalnya agar kekebalan yang diperolehnyapun optimal.

Walau begitu bukn bersrti tak boleh ditunda. Bila kondisi imunologi/kekebalan anak sedang menurun, tentu tak boleh diimunisasi. Selain untuk menghindari komplikasi merugikan bagi tubuh anak, juga agar imunisasi itu sendiri mampu memberikan respons optimal. Hanya, selang waktu penundaan sebaiknya tak terlalu jauh jeda pemberiannya, agar daya lindung vaksin tak berkurang.

Baca lebih lanjut