Belajar Dari Produk Susu yang Tercemar Melamin

Sering sekali kita mendapat berita mengenai “tidak aman” nya suatu produk makanan dan minuman untuk dikonsumsi. Terakhir ini adalah berita mengenai produk susu yang tercemar melamin. Tentu kita sebagai orang tua harus dapat mengambil sikap yang tepat terhadap fenomena ini.

Kita kembali pada beberapa saat sebelum adanya berita ini, anda tentu masih ingat kasus bakteri Sakazaki yang ditengarai mencemari susu formula bayi pada sekitar pertengahan Mei 2008 lalu. Hampir semua pemberitaan memuat hal tersebut, headline surat kabar, internet, dan televisi semua ramai mengangkat permasalahan tersebut. Sikap panik melanda, tetapi setelah itu… (Anda sendiri yang bisa menjawab). Sebelumnya juga ada isu soal minuman isotonik yang dikabarkan bisa menyebabkan penyakit Lupus, padahal tidak. Belum lagi soal Borax dan formalin pada baso, tahu, ikan asin, bahkan daging ayam potong.

Sebagian orang tua tentu merasa gelisah dengan kondisi ini, namun sebagian orang tua yang selalu cermat memilih produk makanan dan selalu menjaga agar anak-anak tidak berlebihan dalam mengonkumsi suatu makanan, tak perlu terseret dalam “pemberitaan” yang mengerikan tersebut.

Kita juga tidak bisa begitu saja menumpahkan kesalahan pada media. Di satu sisi memang tugas media untuk memperingatkan masyarakat, hanya saja kalo boleh saya berpendapat sebaiknya tidak perlu untuk menakut-nakuti, demi meningkatkan oplag. Disini pentingnya kita untuk bersama saling memberikan pendidikan baik untuk diri sendiri maupun masyarakat untuk selalu peduli pada kesehatan diri dengan suatu pembiasaan (hal-hal rutin sehari-hari).

Tindakan-tindakan kecil yang terkadang kita lupakan, ternyata amat penting untuk kita biasakan. Sebagai contoh adalah selalu membaca baik-baik label kemasan produk apapun, meletakkan produk makanan berjauhan dari produk berbahaya, melihat dan mencium beberpa makanan segar, untuk mengetahui terhindar dari campuran bahan kimia atau sudah busuk.

Anda juga harus mempertimbangkan beberapa hal, Apakah lebih memilih produk murah yang nyaris kadaluwarsa daripada sekian ribu lebih mahal namun baru saja diproduksi? Apakah memilih produk makanan hanya karena impor dengan kemasan keren daripada memilih produk lokal yang murah dan tampangnya jadul namun memenuhi standar produksi yang baik? Apakah memilih produk yang diiklankan secara bombastis namun ternyata kandungannya tidak sesuai dengan yang ada di label dibandingkan produk yang tak pernah diiklankan namun kandungannya sesuai dengan apa yang tertera di label kemasan?

Baca juga:

2 Tanggapan

  1. Terima kasih atas infonya….

  2. nice artikel….
    thanks ya infonya…
    sangat bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s