Mencoba Menghilangkan Egoisme

Egoisme dalam bahasa yang mudah dimengerti dapat diartikan sebagai suatu perasaan mementingkan diri sendiri, mau enaknya sendiri. Tentu saja rasa tersebut melekat erat dalam diri manusia, sehingga kita sering mendengar bahwa semua orang pasti punya ego.

Teori egoisme berprinsip bahwa setiap orang mestilah bersifat keakuan, yaitu melakukan sesuatu dengan maksud memberikan manfaat kepada diri sendiri. Apabila sifat itu sudah melekat dalam diri setiap orang maka menurut saya tidak ada salahnya. Egoisme akan menjadi buruk apabila sudah melanggar/mengganggu hak-hak atau privasi orang lain.

Sifat egoisme dalam dunia kerja berpola mengerucut, artinya semakin tinggi jabatan seseorang maka ego semakin besar. Padahal seharusnya adalah sebaliknya. Di level dasar pada sebuah manajemen, sebut saja karyawan seharusnya memiliki ego yang besar dibandingkan atasannya. Karyawan membutuhkan ego yang besar untuk dapat bekerja fokus tanpa ada gangguan dari rekan kerja lainnya, sehingga hasil pekerjaannya bisa maksimal. Namun bila anda sebagai atasan, maka anda harus mengatur ego anda agar bisa lebih kecil/sedikit dibandingkan karyawan anda.mother-daughter.jpg

Saya pernah ditanya, “Jika dalam kondisi sekarang ini (dalam keluarga saya, red) Anda memilih bahagia jadi ibu atau jadi anak ?” entah mengapa secara spontan saya menjawab “Saya akan lebih bahagia menjadi ibu yang bisa membuat bahagia anak-anak saya”.

Memberikan atau membuat orang lain bahagia merupakan kebahagian buat saya, meski kadang terlalu kasar (walau saya harus menderita), tapi sebenarnya pada kenyataannya saya tidak menderita karena senang melihat anak saya bahagia. Dan kebahagian anak saya adalah bisa selalu dekat dengan ibunya. Dan saya rasa tidak berlebihan bila saya akan melakukan apa saja untuk bisa dekat dengannya.

Saya teringat dengan etika makan yang diajarkan orang tua saya. Tidak seperti kebanyakan keluarga lainnya mereka mempersilakan anak-anaknya untuk mengambil makan terlebih dahulu. Mengapa demikian ? ternyata orangtua saya ingin anak-anaknya mendapatkan makanan yang enak yang ada di meja makan. Kadang hanya tinggal tersisa tempe saja karena makanan yang lain sudah diambil oeh anak-anaknya, tapi saya melihat orang tua saya makan dengan tanpa raut penyesalan diwajahnya. Sungguh suatu pelajaran yang amat berharga bagi saya.

Lalu saya mencoba untuk merefleksikan hidup. Sudah saatnya, setelah selama 25 tahun saya dibahagiakan oleh orangtua saya, maka saya juga harus membahagiakan anak-anak saya. Semua tetesan keringat ini adalah untuk kebahagiaan anak-anak saya. Maka ego sayapun adalah milik anak-anak saya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s