Pada saat anak (terutama bayi dan balita) terkena diare, orang tua pasti langsung panik. Apalagi bila diare tersebut disertai mual dan muntah2, tidak ada pilihan lain akhirnya di bawa ke dokter. Kebanyakan kasus dokter pasti akan memberi obat diare : ORALIT.
ORALIT! ini adalah obat utama dan andalan untuk semua diare. Jadi jangan lupa, kalau anak diare: minum ORALIT. Inipun tidak perlu pergi ke dokter, karena oralit bisa dibeli secara bebas. Prinsipnya adalah anak harus banyak minum dan makan, jika oralit belum/tidak tersedia. Minum apa saja boleh… termasuk susu. Lho, kok susu? Ya iya dong, kan diarenya bukan karena susu (intoleransi laktosa). Jadi nggak perlu susunya diganti susu LLM (low lactose milk).
Diare akut biasanya berlangsung dibawah 14 hari, sementara diare kronik lebih dari 14 hari. Kepanikan tidak perlu terjadi bila diare anak tidak disertai penyulit (disertai darah, disertai dehidrasi berat).
Penggunaan Antibiotik
Diare sebagian besar disebabkan oleh Rotavirus, yang akan sembuh dengan sendirinya, antara 2 sampai 7 hari. Sehingga orang tua tidak perlu khawatir, diamkan saja toh nanti akan sembuh dengan sendirinya. Penggunaan antibiotika malah bisa memperparah diare. Berhubung tidak ada bakteri jahat yang harus dibunuh (karena diakibatkan oleh virus, bukan bakteri), sehingga antibiotika akan membunuh bakteri baik. Makanya ada yang namanya antibiotic-associated-diarrhea.
Antibiotika hanya diberikan pada disentri, kolera dengan dehidrasi BERAT, dan penyakit lain seperti pneumonia.
Anti Diare dan Anti Muntah
Ada yang istilahnya adsorben, macamnya: kaolin-pektin, attapulgite, smectite, karbon, dan kolestiramin. Obat-obat ini digunakan karena mampu mengikat dan menonaktifkan racun (toksin) bakteri atau bahan kimia lainnya yang menyebabkan diare, dan kemampuannya untuk “melindungi” mukosa usus halus. Penelitian tidak menunjukkan kegunaan obat jenis ini.
Obat antimuntah seperti chlorpromazine, metoclopramide, dan domperidone malah dapat menimbulkan efek mengantuk, gangguan keseimbangan, dan berinteraksi secara kimiawi dengan oralit. Muntah akan berhenti dengan sendirinya jika diare hilang.
Obat antimotilitas, misalnya: loperamide, hyoscine, dll diberikan untuk mengurangi gerakan usus, sehingga tinja tidak cair, dan diare mereda. Padahal ini dapat menyebabkan ileus paralitik (usus berhenti bergerak/berkontraksi sama sekali), dan berakibat mengancam nyawa (kematian). Penyakit pun tidak bisa dikeluarkan jika usus tidak mau mengeluarkan.
Ada beberapa obat lain yang saya dapati dalam survei yang saya lakukan: ada nifuroxazide (antibiotika), ini juga tidak perlu, dan ada juga antijamur. Padahal diare yang timbul akibat jamur hanya pada anak dengan gangguan sistem daya tahan tubuh (HIV/AIDS, lupus, kanker, terapi steroid jangka panjang).
Anak mencret dan muntah: jangan panik dulu, pikirkan penyebabnya (kebanyakan makan sambel kali…), amati anaknya: ada dehidrasi/tidak. Masih mau minum kan? Nggak terlalu lemes kan? Mau makan walau sedikit tapi sering kan? Masih ada pipisnya kan? Masih mau netek kan? Berarti sekedar diare akut. Delapan puluh persen akan sembuh sendiri.
Baca juga:
- Obat Diare Pada Anak
- Obat Sariawan Untuk Anak
- Alkohol dalam Obat Batuk
- Obat Batuk Alami
- Jambu Mete Obat Sariawan, Radang Tenggorokan
- Kangkung, Obat Sakit Gigi
- Obat / Cara Mengatasi Mimisan
- Obat Panas Dalam
- Obat Penurun Panas/Demam Untuk Bayi
DIarsipkan di bawah: Uncategorized












Terima kasih atas infonya…..
nice artikel…
thanks ya atas infonya…
sangat bermanfaat…
Wah info nya tepat sasaran, kebetulan anak lagi mencret, ketemu blog ini karena cari artikel mengenai komposisi obat yang ada di rumah tuk anak mencret yaituKaolin dan Pektin.
Salam dari keluarga Rinaldi untuk Vina dan Vani.
anak saya 7 bulan sekarang sedang diare sudah 7 hari sudah ke dr. 2 kali tapi belum sembuh, kenapa ya? apa obat yang bagus?